Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian dan kaidah masdar muawwal dalam kaidah ilmu nahwu

Masdar Muawwal (المَصْدَرُ الْمُؤَوَّلُ) adalah susunan kalimat yang terdiri dari Huruf Masdariyah dan kalimat setelahnya (berupa fi'il atau jumlah ismiyyah) yang dapat diringkas atau ditakwil menjadi satu kata Masdar Sharih (masdar kata asal/abstrak).

Huruf-Huruf Masdariyah dan Polanya

Masdar Muawwal umumnya dibentuk dari salah satu dari huruf masdariyah berikut:

Huruf Masdariyah

Pola Kalimat

Contoh Masdar Mu'awwal

Takwil (Masdar Sharih)

Arti Takwil

أنْ (An)

أنْ + Fi'il Mudhari'

يُعْجِبُنِي أَنْ تَنْجَحَ

يُعْجِبُنِي نَجَاحُكَ

"Kelulusanmu mengagumkanku"

أنَّ (Anna)

أنَّ + Isim + Khabar

عَـلِمْتُ أَنَّكَ قَادِمٌ

عَـلِمْتُ قُدُوْمَكَ

"Aku tahu kedatanganmu"

مَا (Ma)

مَا + Fi'il (Madhi/Mudhari')

سَرَّنِي مَا فَعَلْتَ

سَرَّنِي فِعْلُكَ

"Perbuatanmu membahagiakanku"

كَيْ (Kai)

كَيْ + Fi'il Mudhari'

جِئْتُ كَيْ أَتَعَلَّمَ

جِئْتُ لِلتَّعَلُّمِ

"Aku datang untuk belajar"

لَوْ (Lau)

لَوْ + Fi'il Mudhari'

وَدِدْتُ لَوْ تَنْجَحُ

وَدِدْتُ نَجَاحَكَ

"Aku menyukai kelulusanmu"

Ketentuan Hukum dan Kaidah Nahwu

1. Memiliki Kedudukan I'rab (مَحَلٌّ مِنَ الإِعْرَابِ)

Masdar Muawwal menempati posisi jabatan kata tunggal (Isim Mu'rab) dalam kalimat, sehingga bisa menduduki rafa', nashab, atau jar.

Sebagai Fā'il (Rafa'):

يَسُرُّنِي أَنْ تَحْضُرَ - يَسُرُّنِي حُضُوْرُكَ

(An Tahdhura berkedudukan sebagai Fā'il dari fi'il Yasurru).

Sebagai Maf'ūl Bihi (Nashab):

أُرِيْدُ أَنْ أَقْرَأَ - أُرِيْدُ الْقِرَاءَةَ

(An Aqra'a berkedudukan sebagai Maf'ūl Bihi dari fi'il Urīdu).

Sebagai Mubtada' (Rafa'):

وَأَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَكُمْ - صِيَامُكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ

(An Tashūmū berkedudukan sebagai Mubtada').

Sebagai Majrūr (Jar):

عَجِبْتُ مِنْ أَنْ تَأَخَّرْتَ - عَجِبْتُ مِنْ تَأَخُّرِكَ

(An Ta'akhkharta berkedudukan sebagai Majrūr karena didahului huruf jar min).

2. Kaidah Perubahan ke Masdar Sharih

  • Jika fi'ilnya terdiri dari fi'il ma'lum (aktif), gunakan masdar asli dari fi'il tersebut lalu sandarkan (idhafah) ke pelakunya (fā'il).
  • Jika fi'ilnya berupa fi'il majhul (pasif), masdarnya disambungkan dengan kata عَدَمُ atau كَوْنُ sesuai makna konteksnya.
  • Jika bentukan أَنَّ bertemu isim dan khabar berupa isim jamid (kata benda murni), gunakan kata كَوْنُ (misal: 'Alimtu anna Hāmidan asadun 'Alimtu kauna Hāmidin asadan).

Posting Komentar untuk "Pengertian dan kaidah masdar muawwal dalam kaidah ilmu nahwu"